Senin, 23 Desember 2013

Kenalin, gue blogger baru disini hahaaa .. Kali inii gue akan berbagii pengetahuan dan pengalaman tentang cara membuat tugas atau pun makalah darii sekolah .. Oke langsung aja cek kidott ..

BAB I
PENDAHULUAN

A.       LATAR BELAKANG
Seni budaya adalah ilmu pengetahuan yang objek atau bahan ajarnya adalah kebudayaan, baik di negara, mancanegara maupun di kanca internasional. Seni budaya mencakup semua kebudayaan, baik itu tradisi, tarian, alat musik, lagu, drama dan lain-lain sebagainya.
Di samping itu, seni budaya merupakan suatu ikatan yang tidak bisa di pisahkan. Hal ini sejalan dengan pernyataan Sartono Kartodirdjo yang mengemukakan bahwa “Seni budaya merupakan sistem yang koheren karena seni budaya dapat menjalankan komunikasi efektif, antara lain dengan melalui satu bagian saja dapat menunjukkan keseluruhannya”.
Mengingat pentingnya peranan seni budaya maka pengajaran seni budaya di berbagai jenjang pendidikan baik formal maupun informal perlu mendapat perhatian khusus. Salah satu cara untuk dapat melestarikan kebudayaan di Indonesia adalah dengan mengadakan observasi ke beberapa wilayah dan mencatat beberapa informasi yang di dapat dari para narasumber guna untuk mempelajari dan melestarikan kebudayaan di Indonesia.
Pada zaman sekarang ini banyak generasi muda yang tidak tahu dan tidak mau tahu dengan budayanya sendiri, mereka lebih tahu tentang budaya asing seperti musik rock, jazz, hip hop dan lain-lain. Sedangkan kebudayaan sendiri mereka lupakan bahkan sampai mereka tinggalkan. Salah satunya batang hari sembilan, banyak anak muda di Sumatera Selatan yang tidak tahu dan tidak mau tahu dengan kebudayaan itu. Bahkan kalau pun ada orang yang tahu tentang batang hari sembilan itu pasti hanya orang-orang tertentu saja.

B.       TUJUAN
Tujuan observasi ini adalah sebagai berikut :
a.    Agar masyarakat termasuk generasi muda dapat lebih mengenal, mempelajari dan melestarikan kebudayaan di Indonesia.
b.    Dapat memberikan motivasi kepada masyarakat untuk melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia.
c.    Agar masyarakat lebih mencintai dan menyukai kebudayaan sendiri dibandingkan kebudayaan asing yang sifatnya tidak cocok dengan negara kita.
BAB II
PEMBAHASAN

A.      PENGERTIAN
Batang hari sembilan adalah istilah untuk irama musik dengan petikan gitar tunggal yang berkembang di Wilayah Sumatera Bagian Selatan. Dalam pengertian yang lebih luas, Batang Hari Sembilan adalah kebudayaan yang berbasis pada sungai. Kebudayaan ini adalah kebudayaan agraris yang selaras dengan alam. Musik yang diekspresikan dari budaya ini bernuansa romantik, melonkolik dan naturalistik. Kebudayaan sungai ini dapat ditunjukkan dari pola pemukiman masyarakat asli yang berjajar di pinggir sungai. beberapa peralatan hidup seperti transportasi dan alat pengolahan padi (antan delapan) juga digerakkan oleh arus sungai.

B.       SEJARAH DAN PENJELASAN BATANG HARI SEMBILAN
Pengambilan nama Batang Hari Sembilan itu sebenarnya mengikut kepada adanya 9 anak sungai Musi. Sungai Musi merupakan sungai terbesar di daerah ini yang membelah kota Palembang menjadi dua bagian. Sebutan Batanghari Sembilan, suatu istilah "tradisional" untuk menyebut sembilan buah sungai besar yang merupakan anak Sungai Musi, yakni : Klingi, Bliti, Lakitan, Rawas, Rupit, Lematang, Leko, Ogan, dan Komering. Pendapat lain mengatakan konsep atau istilah Batanghari Sembilan, mengacu ke wilayah, adalah sebutan lain dari kawasan Sumatra Bagian Selatan (Sumsel, Jambi, Lampung, Bengkulu) yang memiliki sembilan sungai (batanghari) yang berukuran besar. Batanghari dalam beberapa bahasa lokal di Sumsel, misalnya saja bahasa Rambang (Prabumulih) atau bahasa Bindu (Kecamatan Peninjauan) berarti sungai, bersinonim dengan kali (Jawa) atau river (Inggris). Pada perkembangan selanjutnya, batanghari sembilan juga bermakna budaya, yaitu budaya batanghari sembilan, di antaranya adalah musik dan lagu batanghari sembilan (selanjutnya batanghari sembilan). Secara garis besar musik dan lagu batanghari sembilan adalah salah satu genre seni musik atau lagu daerah yang berkembang di Sumatera Selatan layaknya di daerah lain Indonesia.
Dari contoh diatas kita tahu bahwa bahasa yg digunakan adalah bahasa Melayu dengan dialek Batang Hari Sembilan. Bahasa ini adalah bahasa umum digunakan oleh masyrakat SUMBAGSEL (Sumatera Bagian Selatan) yg meliputi Jambi, Sumsel, lampung dan Bengkulu. Untuk diketahui juga bahwa tidak semua daerah wilayah Sumbagsel menggunakan bahasa tersebut sebagai bahasa sehari-hari, melainkan sebagian besarnya saja. Misalnya untuk Propinsi Bengkulu, yg menggunakan bahasa tersebut hanya di Kecamatan Padang Guci, Kecamatan Kinal dan Kecamatan Kedurang yg berada di Wilayah Bengkulu Selatan. Di kecamatan-kecamatan itulah lagu Batang Hari sembilan dibawakan dengan menggunakan bahasa melayu seperti diatas. Sedangkan untuk provinsi sumsel Lagu Batang Hari Sembilan digunakan secara lebih luas. Karena mungkin asal usul penyebarannya dulu dari wilayah Sumsel.

C.      ALAT DAN TEMBANG
Alat yang dipergunakan untuk mengiringi tembang, di masa lalu masyarakat memiliki alat-alat musik tradisional seperti Serdam, Ginggung, Suling, Gambus, Berdah dan Gong alat tersebutlah yang mengikuti rejung atau tembang atau adakalanya mereka melantunkan tembang tanpa alat dan tanpa syair “meringit”. Selain ini adalagi sastra lisan seperti guritan, andai-andai, memuning dan lain-lain saat ini sudah langka yang dapat melakukannya. Dengan kemajuan yang dilalui, masyarakatnya berinteraksi dengan peralatan moderen, menyebabkan alat tradisional tersebut bertambah atau berganti alat-alat baru seperti Accordion (ramanika), Biola (piul) dan Guitar (gitar). Sejak tahun enam puluh-an didominasi oleh Gitar Tunggal     ( hanya mempergunakan dan hanya satu gitar saja ) untuk mengiringi tembang. Tembang tersebut biasanya hanyalah berupa Pantun empat kerat bersajak a-b a-b, bahasa yang dipergunakan adalah bahasa melayu. Sekedar contoh dalam lagu batang hari sembilan bait Syairnya adalah seperti ini: Kain abang bejait tangan, Belapik tika batang padi, Ghimbe kuang bukan alangan, Kalu Kendaan kan di jalani.
Kalau kita terjemahkan secara bebas ke dalam bahasa Indonesia maka artinya seperti ini: Kain merah dijahit tangan, Beralas tikar batang padi, Hutan rimba lebat bukan halangan, Kalau kemauan akan dijalani.
Lagu batang hari sembilan seringkali dibawakan oleh anak bujang sambil berjalan berkunjung ke rumah gadis dari dusun ke dusun dengan diiringi oleh gitar tunggal. Disebut gitar tunggal karena biasanya cocoknya dan mudahnya diiringi oleh satu gitar. Sambil berjalan di kesunyian malam di masa lalu, bujang-bujang membawakan lagu batang hari sembilan yang umumnya berkisah tentang romantika kehidupan bujang dusun pada masa itu.
Saat ini lagu batang hari sembilan bukan hanya untuk bersenandung melepas kepenatan hidup atau untuk merayu sang gadis pujaan, tapi juga sebagai suatu profesi dan seni pertunjukan. Pertunjukan musik batanghari sembilan, kadangkala menampilkan satu-dua penyanyi yang melantunkan pantun bersahut, dengan iringan petikan gitar tunggal. Sesuai dengan pengaruh riak aliran batanghari sembilan, musik ini memiliki irama yang meliuk-liuk dengan lirik berupa pantun bersahut yang panjang dan bersambungan, mirip panjangnya aliran sungai.

D.      NUANSA ESTETIKA
Irama dan nada yang muncul dari tembang atau rejung itu memiliki nuansa estetika natural, dalam arti membawakan suara alam semesta yang pada dasarnya jarang orang tidak dapat mengapresiasinya. Nuansa estetika natural ini tidak hanya sekedar memenuhi konsumsi pemikiran energis, melainkan lebih kepada unsur qalbu sentimental. Jiwa insaniah yang terdalam dapat diraih, maka kadang-kadang tidak mengherankan jika unsur pemikirian tidak terlalu dominan sehingga dapat memberi celah hidup dalam hati, di situlah letak dari tembang ini. Tentu saja sasarannya adalah manusia yang masih hidup secara batiniahnya.

E.       GITAR TUNGGAL
Istilah gitar tunggal dalam konteks batanghari sembilan relatif baru, diperkirakan muncul sekitar tahun 1950-an. Sebelum muncul istilah ini, dikenal dengan “Petikan Dawi”. Dawi adalah nama pemetik gitar tunggal yang berasal dari daerah Besemah. Penyebutan gitar tunggal karena biasanya diiringi satu alat petik (gitar, gitar tunggal identik dengan musik batanghari sembilan itu sendiri).

F.       NADA GITAR TUNGGAL
Secara teoritis, teknik memetik gitar tunggal batang hari sembilan umumnya pentatonis (bertangga nada lima, bandingkan dengan musik produk Barat yang umumnya diatonis; bertangga nada tujuh). Petikannya dominan memanfaatkan melodi bas (senar 4, 5, dan 6). Setiap ganti lagu, acapkali, pemusik nyetem(menyetel) gitarnya sehingga menghasilkan irama yang berbeda. Dari delapan nada dasar pada gitar, kerap hanya mengandalkan lima nada. Nada-nada itu dipadukan secara pentatonis, mirip gamelan atau ketukan perkusi yang ritmis dan agak monoton, baik melodi maupun harmoni.





BAB III
PENUTUP

A.      KESIMPULAN
Hasil observasi yang kami lakukan selama beberapa minggu telah menghasilkan beberapa kesimpulan yaitu bahwa melakukan observasi tentang kebudayaan di Indonesia sangat penting karena dengan begitu kita dapat mempelajari kebudayaan tersebut bahkan bukan hanya mempelajari tapi juga dapat mempraktekkannya guna melestarikan kebudayaan di Indonesia.
Contohnya adalah kebudayaan batang hari sembilan, kami bukan hanya mencoba mempelajari tapi juga ikut mempraktekkannya agar kebudayaan tersebut berkembang dan tidak punah seiring dengan perkembangan zaman dan perubahan waktu.

B.       SARAN
Masyarakat di Indonesia termasuk generasi muda sekarang telah banyak yang melupakan kebudayaan sendiri. Mereka lebih suka melihat dan mempelajari kebudayaan asing yang pada dasarnya tidak cocok dengan budaya kita. Oleh karena itu, perlu di adakan observasi dan seminar tentang kebudayaan di Indonesia yang sifatnya mengajak masyarakat termasuk generasi muda untuk mempelajari dan mempratekkan kebudayaan sendiri guna untuk melestarikan kebudayaan di Indonesia. Jangan sampai kebudayaan yang menjadi identitas negara kita di ambil oleh negara lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar